Mencari Malam Lailatul Qodar Berikut Keistimewaannya.!

  • Bagikan
Malam Lailatul Qodar

Mencari Malam Lailatul Qodar

Bulan Ramadhan dibagi menjadi tiga fase.Pada Fase 10 hari pertama ialah yang merupakan fase rahmat dan kasih sayang Allah. Di Fase 10 hari ke dua dinamakan fase maghfirah yakni ampunan dari Allah SWT, dan Fase 10 hari ketiga adalah Fase Itqun minan Nar yakni pembebasan dari api neraka.

Pada umumnya, Dalam memasuki 10 hari terakhir bulan ramadhan umat muslim hendak semakin aktif beribadah paling utama bertepatan pada ganjil, sebab mereka mendambakan serta memburu malam istimewa bernama Lailatul Qadar. Semangat ini bukan tanpa dasar. Dilansir dari nu. or. id, Lailatul Qadar diucap dalam Al- Qur’ an selaku malam yang lebih baik dari serbu malam.

Maksudnya, sesuatu amal kebaikan berlipat- lipat nilainya apabila diamalkan pada malam istimewa ini dibandingkan malam-malam biasa. Walaupun begitu, tidak terdapat kepastian tentang kapan persisnya Lailatul Qadar datang. Al- Qur’ an serta hadits juga tidak menarangkan tentang perihal itu. Hakikat hari ataupun bertepatan pada terbentuknya Lailatul Qadar tetaplah jadi teka-teki. Keadaan ini menaruh hikmah, salah satunya supaya seluruh orang tekun beribadah selama bulan suci Ramadan tanpa mesti terikat waktu tertentu.

Tetapi demikian, Rasulullah berikan semacam kisi-kisi tentang kapan datangnya Lailatul Qadar. Pesan itupun terlihat dari hadits riwayat al- Bukhari serta Muslim yang memerintahkan umat Islam mencari Lailatul Qadar pada 10 terakhir bulan Ramadhan.

Rasulullah sendiri meningkatkan intensitas ibadah di malam hari pada 10 hari terakhir itu, apalagi tidak segan membangunkan keluarganya. Hadits lain yang diriwayatkan Imam al- Bukhari dari Aisyah radliyallahu‘ anha berkata,“ Carilah Lailatul Qadar itu pada malam- malam ganjil dari 10 hari terakhir( bulan Ramadhan).” Lailatul Qadar selaku pengalaman spiritual pula sempat dialami oleh para teman Nabi. Ibnu Umar mengaku bermimpi sebagaimana mimpi- mimpi teman lain kalau Lailatul Qadar terjalin pada 7 hari terakhir. Kaidah Imam al- Ghazali.

Mengambil dari sumber- sumber di atas, para ulama setelah itu berupaya mempelajari pengalaman mereka dalam melihat munculnya malam Lailatul Qadar. Bagi penjelasan Fathul Qarib, Hasyiah Al- Bajury, serta Fathul Muin beserta Ianatut Thalibin, Imam Syafii melaporkan kalau Lailatul Qadar itu terdapat pada 10 akhir Ramadhan, lebih- lebih pada malam ganjilnya, serta yang sangat diharapkan merupakan pada malam 21, ataupun 23 Ramadan.

Sebagian ulama berkomentar tidak terdapat kaidah baku tentang kapan Lailatul Qadar. Sebagian lagi berkomentar kebalikannya. Di antara ulama yang melaporkan kalau terdapat kaidah ataupun resep buat mengenali itu merupakan Imam Abu Hamid Al- Ghazali( 450 H- 505 H) serta Imam Abul Hasan as Syadzili. Apalagi dinyatakan kalau Syekh Abu Hasan sejak baligh senantiasa memperoleh Lailatul Qadar serta menyesuai dengan kaidah ini. Tentang kaidah mencirikan Lailatul Qadar ala Imam al- Ghazali ini, paling tidak terdapat 2 tipe uraian. Tetapi, keduanya mengajukan teori yang sama kalau malam Lailatul Qadar dapat perkirakan dari hari awal bulan Ramadan. Tipe awal tercatat dalam kitab I’ anatuth Thalibin serta Hasyiyah al- Jamal, sedangkan tipe kedua dapat ditemukan keterangannya dalam Hasyiyah al- Bajuri.? Tipe Awal Bila dini Ramadhan jatuh pada hari Ahad ataupun Rabu hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 29. Bila awal mulanya jatuh pada hari Senin hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 21. Bila awal mulanya jatuh pada hari Selasa ataupun Jumat hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 27. Bila awal mulanya jatuh pada hari Kamis hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 25.

Bila awal mulanya jatuh pada hari Sabtu hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 23. Kaidah ini menemukan testimoni dari Syekh Abul Hasan As- Syadzili. Beliau berkata,“ Sejak saya tiba diumur dewasa Lailatul Qadar tidak sampai meleset dari agenda ataupun kaidah tersebut.”? Tipe Kedua Bila dini puasanya Jumat hingga pada malam ke- 29. Bila dini puasanya Sabtu hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 21. Bila Ahad hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 27. Bila Senin hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 29. Bila Selasa hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 25. Bila Rabu hingga Lailatul Qadar jatuh pada malam ke- 27. Bila Kamis hingga Lailatul Qadar jatuh pada 10 akhir malam- malam ganjil.

Baca Juga  Jam Perdagangan Pasar Ditambah , AEI- APEI Sambut Positif

بِسْمِاللهِالرَّحْمٰنِالرَّحِيْمِ

إِنَّاأَنْزَلْنَهُفِىلَيْلَةِالْقَدْرِوَمَاأَدْرَاكَمَالَيْلَةُالْقَدْرِلَيْلَةُالْقَدْرِخَيْرٌمّنْأَلْفِشَهْرٍتَنَزَّلُالْمَلَئِكَةُوَالْرُّوحُفِيْهَابِإِذْنِرَبِهِّمْمِّنْكُلِّأَمْرٍسَلَامٌهِىَحَتَّىمَطْلَعِالْفَجْرِ(القدر:١-٥)

وقالابنأبىحاتم:حدثناأبوزرعةحدثناإبرهيمبنموسىأخبرنامسلميعنىابنخالدعنابنأبىنجيحعنمجاهدأنالنبىصلىاللهعليهوسلمذكررجلالبسالسلاحفىسبيلاللهألفشهرقالفعجبالمسل مونمنذلكقالفأنزلاللهعزوجبة(إناأنزلناهفىليلةالقدر،وماأدراكماليلةالقدرليلةالقدرخيرمنألفشهر)التىلبسذلكالرجلالسلاحفىسبيلاللهألفشهر(رواهأبوداود)

Dari Imam ibnu Abi Hatim berkata, sudah menggambarkan kepada kami Abu Zarah, sudah menggambarkan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, sudah menggambarkan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari ibnu Abu Najih, dari Mujahid, kalau Nabi SAW menggambarkan tentang seseorang lelaki( era dulu) yang menyandang senjatanya sepanjang seribu bulan dalam berjihad di jalur Allah SWT. Hingga kalangan muslimin merasa kagum dengan Mengenai lelaki yang berjihad tersebut. Imam Mujahid melanjutkan kisahnya, kalau setelah itu Allah SWT merendahkan firman- Nya:“ Sebetulnya Kami sudah menurunkannya pada malam kemuliaan. Serta mengerti kah kalian apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan”.( Al- Qadar: 1- 3).

Dari Imam ibnu Abi Hatim berkata, sudah menggambarkan kepada kami Abu Zarah, sudah menggambarkan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, sudah menggambarkan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari ibnu Abu Najih, dari Mujahid, kalau Nabi SAW menggambarkan tentang seseorang lelaki( era dulu) yang menyandang senjatanya sepanjang seribu bulan dalam berjihad di jalur Allah SWT. Hingga kalangan muslimin merasa kagum dengan Mengenai lelaki yang berjihad tersebut. Imam Mujahid melanjutkan kisahnya, kalau setelah itu Allah SWT merendahkan firman- Nya:“ Sebetulnya Kami sudah menurunkannya pada malam kemuliaan. Serta mengerti kah kalian apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan”.( Al- Qadar: 1- 3).

Artinya:“ kalau malam kemuliaan itu” lebih baik daripada lelaki itu menyandang senjatanya sepanjang seribu bulan dalam berjihad di jalur Allah.( HR. Abu Dawud).

Ibnu Jarir berkata pula kalau sudah menggambarkan kepada kami ibnu Humaid, dari Hakam ibnu Muslim, dari Al- Musana Ibnussabah, dari Mujahid, dari Abdullah bin Mas’ ud yang berkata kalau dulu dari golongan ulama kalangan Bani Israil( generasi Yakub as) senantiasa melaksanakan shalat malam sampai pagi hari, setelah itu siang harinya dia berjihad di jalur Allah sampai petang hari, ia melaksanakannya sepanjang seribu bulan, hingga bersabda Rasulullah SAW, kemudian turunlah pesan Al- Qadar. Ialah melaksanakan shalat malam dimalam Al- Qadar lebih baik daripada amalan orang Bani Israil yang beribadah serta berjihad tadi.( HR. Tirmidzi). Sesuatu hari Rasulullah SAW menggambarkan tentang cerita 4 orang lelaki di era dulu; mereka menyembah Allah sepanjang 8 puluh tahun tanpa melaksanakan kedurhakaan kepada- Nya. Dia SAW mengatakan nama mereka, ialah Ayyub, Zakaria, Hizkil ibnul Ajuz, serta Yusya ibnu Nun. Kemudian para teman Rasulullah SAW merasa kagum dengan amalan mereka. Hingga datanglah Jibril as kepada Nabi SAW serta mengatakan:“ Hai Muhammad, umatmu merasa kagum dengan ibadah mereka sepanjang 8 puluh tahun itu tanpa berbuat durhaka. Sebetulnya Allah SWT sudah merendahkan perihal yang lebih baik daripada itu”. Setelah itu malaikat Jibril as membacakan kepadanya firman Allah pesan Al- Qadar: 1- 3. Jibril mengatakan ini lebih baik daripada apa yang engkau serta umatmu kagumi. Hingga bergembiralah karenanya Rasulullah SAW serta orang- orang yang bersamanya dikala itu.

Imam Sufyan Assauri berkata kalau amalan puasa, qiyamnya lebih baik daripada melaksanakan perihal yang sama dalam seribu bulan apabila dibanding dengan amalan ibadah didalam bulan yang tidak ada malam Lailatul Qadarnya.

Baca Juga  Rayu Elon Musk, India Tawarkan Segudang Insentif Buat Tesla

Dalam hadits lain di sebutkan:

عنأبىمصعبأحمدبنأبىبكرالزهرىحدثنامالكأنهبلغهأنرسولاللهصلىاللهعليهوسلمأرىأعمارالناسقبلهأوماشاءاللهمنذلكفكأنهتقاصرأعمارأمتهأنلايبلغوامنالعجلالذىبلغغيرهمفىطولالعمرفأعطاءاللهليلهالقدرخيارمنألفشهر

Abi Masab ialah Ahmad Ibnu Abi Bakar Azzuhri berkata dari Malik sudah hingga kepadanya kalau Rasulullah SAW diperlihatkan kepadanya usia- usia manusia yang tadinya dari golongan umat terdahulu, ataupun sebagian dari perihal tersebut bagi apa yang dikehendaki oleh Allah. Hingga Rasulullah SAW seakan- akan menyangka pendek umur umatnya apabila dibanding dengan mereka yang berumur sedemikian panjangnya dalam perihal beramal, serta dia merasa takut apabila amal umatnya tidak bisa menggapai tingkatan mereka.

Hingga Allah SWT memberinya Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. Hadits ini sudah ditumpukan lewat jalan lain, serta apa yang dikatakan oleh Malik ini berikan penafsiran kalau Lailatul Qadar cuma dikhususkan untuk umat ini.

Firman Allah SWT:

تَنَزَّلُالْمَلٓئِكَةُوَالرُّوْحُفِيْهَابِاِذْنِرَبِّهِمْمِنْكُلِّاَمْرٍ.سَلٰمٌهِيَحَتّٰىمَطْلَعِالْفَجْرِ.(القدر:٤-٥)“

Pada malam itu turun malaikat- malaikat serta Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya buat mengendalikan seluruh urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar”.( Al- Fajr: 4- 5) Ialah banyak malaikat yang turun( kemuka bumi) di malam kemuliaan ini bertepatan dengan turunnya berkah serta rahmat dari Allah SWT.

Mereka menjumpai orang- orang yang membaca Al- Qur’ an, mengelilingi halaqah- halaqah dzikir, dan meletakkan sayap mereka menaungi orang yang menuntut ilmu sebab menghormatinya, menghadiri orang- orang yang terdapat didalam masjid yang lagi shalat hingga fajar terbit. Jibril as tidak membiarkan suatu rumah juga yang didalamnya ada orang mukmin pria ataupun wanita, tidak hanya ia memasukinya serta mengucapkan salam kepadanya, seraya berkata,“ Hai orang mukmin pria ataupun hai orang mukmin wanita, Allah mengucapkan salam kepadamu”. Kecuali, terhadap orang yang suka minum khamar, orang yang memutuskan silaturahim serta pemakan daging babi.

Pada malam qadar itu Allah SWT menetapkan segala urusan yang dikehendaki- Nya semacam urusan kematian, azal, rejeki, serta sebagainya hingga tahun selanjutnya. Setelah itu, Allah menyerahkannya kepada yang mengendalikan urusan- urusan itu. Mereka merupakan Malaikat Israfil, Mikail, Izrail, serta Jibri Alaihimus Salam. Turunnya malaikat- malaikat tadi dari Sidratul Muntaha dipandu oleh Malaikat Jibril serta berdoa buat orang- orang mukmin pria serta wanita.

Sebagaimana doa para malaikat:“ Ya Tuhan kami, rahmat serta ilmu Engkau meliputi seluruh suatu, hingga berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat serta menjajaki jalur Engkau serta peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala- nyala. Ya Tuhan kami, serta masukanlah mereka kedalam surga yang sudah Engkau janjikan kepada mereka serta orang-orang yang shaleh diantara bapak-bapak mereka, serta istri-istri mereka, serta generasi mereka seluruh. Sebetulnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.( Al- Mumin: 7- 8) Abu Dawud sudah menggambarkan kepada kami Imran Al- Qattan, dari Qatadah, dari Abu Maimunah, dari Abu Hurairah, kalau Rasulullah SAW bersabda:

انهاليلةسابعةاوتاسعةوعشرينوإنالملائكةتلكالليليةفىالأرضأكثرمنعددالحصى.

“ Sebetulnya malam kemuliaan itu jatuh pada malam ke 27 atau 29 Ramadhan, serta sebetulnya para malaikat di bumi pada malam itu jumlahnya lebih banyak daripada bilangan batu kerikil”.

Malik ibnu Marsad ibnu Abdullah bertanya kepada Abu Dzar,“ Apakah yang sempat engkau tanyakan kepada Rasulullah SAW tentang Lailatul Qadar? Abu Dzar menanggapi, kalau dirinyalah orang yang sangat gencar menanyakan tentang Lailatul Qadar kepada Rasulullah SAW.

Saya bertanya“ Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang Lailatul Qadar, apakah ada di bulan Ramadhan ataukah di bulan yang lain?” Rasulullah menanggapi,“ Tidak, apalagi dia ada didalam bulan Ramadhan”.

Saya bertanya lagi,“ Apakah Lailatul Qadar itu cuma terdapat di masa nabi saja? Apabila mereka sudah tiada, hingga Lailatul Qadar dihapuskan, ataukah masih senantiasa terdapat hingga hari kiamat?”

Rasulullah SAW menanggapi,“ Tidak, apalagi Lailatul Qadar senantiasa terdapat hingga hari kiamat”.

Saya bertanya lagi,“ Dibagian manakah Lailatul Qadar ada dalam bulan Ramadhan?”

Baca Juga  Khutbah Jumat: Menghadapi Kematian Berbekal Iman

Rasulullah SAW menanggapi,“ Carilah di malam- malam 10!” Dari Abu Sa’ id Al- Hudri ra dia mengatakan,“ Kami beritikaf bersama- sama dengan Nabi SAW 10 hari pertengahan bulan Ramadhan, setelah itu puasa pagi hari bertepatan pada 20, dia keluar kemudian berhutbah kepada kami,“ Sebetulnya Lailatul Qadar sudah diperlihatkan kepadaku, setelah itu saya dibiarkan, hingga carilah Lailatul Qadar itu pada 10 terakhir dalam malam ganjil”.( HR. Bukhari).

Ibnu Mas’ ud sempat berkata kalau barangsiapa yang melaksanakan shalat malam sejauh tahun, tentu hendak menjumpai Lailatul Qadar. Ubay ibnu Kaab menanggapi,“ Mudah- mudahan Allah merohmatinya, sebetulnya ia sudah mengenali kalau malam kemuliaan itu ada didalam bulan Ramadhan serta tepatnya di malam 27”.

Setelah itu Ubay ibnu Ka’ ab bersumpah buat memantapkan perkataannya. Serta saya( Abu Munzir) bertanya,“ Bagaimanakah kalian mengetahuinya?”

Ubay ibnu Ka’ ab menanggapi,“ Lewat alamat ataupun tandanya yang sudah diberitahukan kepada kami oleh Nabi SAW, kalau pada siang harinya matahari terbit dipagi harinya, sebaliknya cahayanya lemah”.

Rasulullah SAW sudah bersabda:

“ Sebetulnya tanda- tanda Lailatul Qadar yakni cuacanya bersih, lagi cerah seakan- akan terdapat rembulannya, tenang, lagi sepi; suhunya tidak dingin serta tidak pula panas, serta tiada sesuatu bintang juga yang dilemparkan pada malam itu hingga pagi hari. Serta sebetulnya tanda- tanda Lailatul Qadar itu dipagi harinya matahari terbit dalam kondisi sempurna, namun tidak bercahaya semacam umumnya melainkan semacam rembulan dimalam purnama”.( HR. Bukhari)

Tidak ditentukannya malam kemuliaan itu bagimu, sebab sebetulnya bila malam kemuliaan di misterikan ketentuannya, hingga orang- orang yang mencarinya hendak mengejarnya dengan penuh intensitas guna mendapatkannya dalam segala bulan Ramadhan. Dengan demikian, berarti ibadah yang dikerjakannya lebih banyak. Serta perihal yang sangat disunatkan yakni perbanyak doa berikut ini:

اَللّٰهُمَإِنَّكَعَفُوٌّتُحِبُّالْعَفْوَفَاعْفُعَنِّيْ.

“ Ya Allah sebetulnya Engkau Maha Pemaaf, suka berikan maaf hingga maafkanlah daku”. Allah SWT memanggil Jibril as buat turun ke bumi disetiap malam kemuliaan bersama dengan para malaikat yang menghuni Sidratul Muntaha. Tiada seseorang malaikat juga dari mereka melainkan sudah dianugerahi rasa lembut serta kasih sayang kepada orang- orang mukmin. Hingga turunlah mereka dibawah pimpinan Jibril as dimalam kemuliaan semenjak matahari terbenam. Tiada sesuatu tempatpun di bumi melainkan terisi oleh malaikat; terdapat yang lagi sujud, adapula yang lagi berdiri mendoakan orang- orang mukmin pria serta wanita. Mereka terus mendoakan sejauh malam.

وجبريللايدعأحدامنالمؤمنينإلاصافحهوعلامةذلكمناقشعرجلدهورققلبهودمعتعيناهفانذلكمنمصافحةجبريل

“ Serta Jibril tidak sekali- kali mendoakan seorang dari kalangan mukmin melainkan dia menyalaminya serta selaku pertandanya yakni apabila seorang yang lagi melaksanakan qiyam, bulunya merinding serta hatinya lembut dan sakatika itu matanya menangis, hingga itu akibat salam Jibril kepadanya( jabat tangan Jibril kepadanya). Para malaikat itu terus menerus dalam kondisi demikian sampai fajar terbit. Sehabis itu malaikat naik lagi ke langit berikut malaikat Jibril; manakala hingga di ufuk yang besar malaikat- malaikat tadi berkumpul buat kembali, karenanya hingga sinar matahari nampak redup. Hingga Sidratul Muntaha menyongsong kehadiran mereka“ Seluruh puji untuk Allah Yang Maha Penyayang”.

Urutan nilai untuk hamba yang memperoleh Lailatul Qadar sangat akhir yakni yang melakukan shalat isya serta shalat subuh berjamaah pada malam kemuliaan( Lailatul Qadar) tersebut. Imam ibnu Abi Hatim mengatakan dalam tafsirnya:

منصامرمضانوهويحدثنفسهإذاأفطررمضانأنلايعصىاللهدخلالجنةبغيرمسئلةولاحساب.آخرتفسيرسورةليلةالقدر،واللهالحمدوالمنة.

” Benda siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan, sebaliknya dalam dirinya dia berdialog kalau apabila dia berbuka( ialah sudah berakhir dari puasa Ramadhannya) dia berniat buat tidak hendak berbuat durhaka kepada Allah SWT, tentu orang itu masuk surga tanpa persoalan serta tanpa hisab”.

Demikianlah akhir tafsir pesan Al- Qadar, seluruh puji untuk Allah atas seluruh karunia yang sudah dilimpahkan- Nya. Dilansir dari:-

Tafsir Ibnu Katsir-

Tafsir Marah Labid-

Tafsir Munir-

Tafsir Shawi-

Tafsir Futuhatul Ilahiyah-

  • Bagikan