Mata Uang Asia Menguat, Rupiah Malah KO & Jadi yang Terburuk

  • Bagikan
ilustrasi rupiah dan dolar cnbc indonesiaandrean kristianto 4 169



ilustrasi rupiah dan dolar cnbc indonesiaandrean kristianto 4 169

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (1/3/2021), melanjutkan kinerja buruk pekan lalu. Data ekonomi dari dalam negeri yang mengecewakan membuat rupiah terus tertekan.

Melansir data Refinitiv, rupiah sebenarnya membuka perdagangan dengan menguat 0,14% ke Rp 14.220/US$. Tetapi tidak lama, rupiah langsung berbalik melemah hingga 0,39% di Rp 14.295/US$.

Posisi rupiah membaik selepas tengah hari, hingga akhirnya menutup perdagangan di Rp 14.250/US$, melemah 0,07% di pasar spot. Meski pelemahannya tidak besar, tetapi rupiah menjadi yang terburuk di Asia. Sebab, mayoritas mata uang utama Asia menguat melawan dolar AS, bahkan cukup penguatannya cukup besar.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia hingga pukul 15:07 WIB.


Pada pekan lalu, rupiah merosot 1,28% ke Rp 14.240/US$. Dengan pelemahan tersebut, rupiah mencatat kinerja mingguan terburuk dalam 7 bulan terakhir.

Pemicu utama pelemahan rupiah di pekan ini adalah kenaikan yield obligasi (Treasury) AS. Sepanjang pekan lalu, yield Treasury AS sempat naik 17 basis poin ke 1,515% yang merupakan level tertinggi sejak awal Februari 2020 atau sebelum virus corona dinyatakan sebagai pandemi, dan sebelum bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membabat habis suku bunganya menjadi 0,25%.

Kenaikan tersebut berisiko memicu capital outflow dari pasar obligasi Indonesia, sebab selisih yield dengan Surat Berharga Negara (SBN) menjadi menyempit. Ketika terjadi capital outflow, maka nilai tukar rupiah akan tertekan.

Pada perdagangan hari ini, yield Treasury sebenarnya sudah mulai menurun, tenor 10 tahun turun 4,5 basis poin ke 1,4101%. Alhasil, mayoritas mata uang utama Asia mampu menguat melawan dolar AS.

Baca Juga  MEIZU PRO 7 DAN PRO 7 PLUS SMARTPHONE HIGH END BERKUALITAS TINGGI

Banyak analis melihat kenaikan yield Treasury masih akan tertahan di kisaran 1,5%, sebab jika terus menanjak, maka akan memicu kecemasan terjadi taper tantrum yang dapat memicu gejolak di pasar keuangan global.

Namun, sayangnya rilis data ekonomi Indonesia yang mengecewakan membuat rupiah tertekan.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Aktivitas Manufaktur Melambat, Inflasi Lemah



Source link

  • Bagikan