Demi Sesuap Nasi (dan Segenggam Berlian), Harga Minyak Turun!

  • Bagikan
ed3f0e5b a9fb 4462 ad0e b260bbe9e4fb 169



ed3f0e5b a9fb 4462 ad0e b260bbe9e4fb 169

Jakarta, Berita saatini Indonesia – Harga minyak dunia bergerak turun sepanjang pekan ini. Maklum, investor juga manusia yang ingin mencari sesuap nasi (dan segenggam berlian).

Selama minggu ini, harga minyak jenis brent terkoreksi 0,26% secara point-to-point. Sementara yang jenis light sweet berkurang 0,82%.

Penurunan ini terjadi setelah harga si emas hitam melonjak lebih dari 9% dalam sebulan terakhir. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga minyak sudah meroket tidak kurang dari 30%.


Oleh karena itu, wajar jika investor melihat peluang cuan gede. Keuntungan lebih dari 30% jika memegang kontrak minyak sejak awal tahun tentu sebuah peluang yang tidak boleh disia-siakan. Investor juga manusia, punya keluarga untuk dinafkahi.

Namun ke depan, peluang kenaikan harga minyak masih terbuka lebar. Dalam laporan terbarunya, Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) memperkirakan permintaan bakal melesat karena ekonomi dunia mulai pulih dari pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

OPEC memperkirakan perminyaan minyak dunia tahun ini akan naik sebanyak 5,89 bare/hari. Lebih tinggi 6,5% dibandingkan perkiraan yang dibuat bulan lalu.

“Total permintaan minyak diperkirakan mencapai 96,3 juta barel/hari. Namun peningkatan permintaan sepertinya baru terjadi pada semester II,” sebut laporan OPEC.

Meski demikian, permintaan minyak belum kembali seperti masa sebelum pandemi. Sebab bagaimanapun aktivitas dan mobilitas masyarakat masih relatif terbatas.

“Sektor-sektor yang padat energi, utamanya perjalanan dan transportasi, masih akan merasakan dampak pandemi. Sektor ini tidak akan banyak menyumbang terhadap peningkatan permintaan,” sambung laporan OPEC.

Selain karena peningkatan permintaan, kenakan harga minyak juga didorong oleh komitmen negara-negara OPEC untuk mengurangi produksi. Pada Februari 2021, produksi minyak negara-negara OPEC berkurang 650.000 barel/hari menjadi 24,85 juta barel/hari. Pengurangan produksi terbanyak terjadi di Arab Saudi, yaitu minus 956.000 barel/hari menjadi 8,15 juta barel/hari.

Baca Juga  Gugatan Bambang Trihatmodjo Hingga Harapan Jokowi Pada BKPM

TIM RISET Berita saatini INDONESIA

(aji/aji)




Source link

  • Bagikan