Bersama Ringgit Malaysia, Rupiah Jadi Mata Uang Terburuk Asia

  • Bagikan
044a1497 ae1c 4e63 b4ac 2ba8447f2d06 169



044a1497 ae1c 4e63 b4ac 2ba8447f2d06 169

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah sukses memangkas pelemahan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/3/2021). Meski demikian, pelemahan rupiah masih cukup besar dan menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia hari ini.

Melansir data dari Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,21% ke Rp 14.380/US$. Setelahnya rupiah langsung jeblok 0,84% ke Rp 14.470/US$ yang merupakan level terlemah sejak 4 November 2020.

Rupiah berhasil memangkas pelemahan, dan berada di level Rp 14.400/US$, dan tertahan di level tersebut nyaris sepanjang perdagangan.

Di penutupan perdagangan rupiah berada di level Rp 14.390/US$, melemah 0,28% di pasar spot. Mata uang utama Asia bervariasi melawan dolar AS hari ini. Hingga pukul 15:07 WIB, peso Filipina menjadi yang terbaik dengan penguatan 0,53%.

Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0,37%, dan rupiah berada di urutan kedua terburuk.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia.


Rupiah pada perdagangan hari ini tertekan akibat capital outflow. Di pasar saham, data pasar menunjukkan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 740 miliar. Sementara awal pekan kemarin net sell tercatat Rp 414 miliar. Artinya dalam 2 hari terjadi capital outflow lebih dari 1,1 triliun.

Selain itu, capital outflow kemungkinan besar juga terjadi di pasar obligasi, sebab yield Surat Berharga Negara (SBN) melesat naik. Yield SBN tenor 10 tahun hari ini naik 6 basis poin ke 6,817%, kemarin juga naik 13,2 basis poin.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi, saat yield naik artinya harga sedang turun, begitu juga sebaliknya. Ketika harga sedang turun, artinya sedang terjadi aksi jual, yang bisa menjadi indikasi capital outflow.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Stimulus Fiskal Malah Dongkrak Dolar AS

Baca Juga  Kacau! Indonesia Rugi Rp 22,8 Triliun Pertahun Akibat Bencana



Source link

  • Bagikan