Arab ‘Ribut’ Lagi sama Rusia, Meeting OPEC+ Bagaimana?

  • Bagikan
45185e9c b4c9 486a b8c3 957193f1b303 169



45185e9c b4c9 486a b8c3 957193f1b303 169

Jakarta, CNBC Indonesia – Kelompok negara-negara produsen minyak terbesar di dunia akan menggelar pertemuan paling penting pada Kamis mendatang untuk membahas persoalan langkah pemotongan produksi yang sempat dilakukan tahun lalu guna menstabilkan harga minyak dunia di pasar internasional.

Organisasi negara produsen minyak yakni OPEC dan mitra non-OPEC, atau aliansi energi yang biasa disebut sebagai OPEC+, akan bersidang melalui konferensi video guna mencapai konsensus tentang cara mengelola pasokan minyak di tengah mulai pulihnya aktivitas ekonomi dunia.

Tahun lalu OPEC+ setuju untuk membatasi jumlah produksi minyak guna menopang harga karena langkah pencegahan pandemi termasuk lockdown di sejumlah negara terjadi bersamaan dengan permintaan bahan bakar yang ambles terendah sepanjang sejarah.

Keputusan menjaga pasokan minyak pada minggu ini datang pada saat harga minyak dunia telah pulih ke level sebelum virus corona mendera. Sebelumnya produksi minyak di AS juga terpukul akibat badai yang membekukan stok dan pandemi virus corona juga terus mengaburkan prospek permintaan.

Arab Saudi sebagai pemimpin de facto OPEC secara terbuka mendorong mitra sekutunya untuk tetap “sangat berhati-hati” pada kebijakan produksi, memperingatkan OPEC agar tidak berpuas diri saat berusaha menavigasi krisis Covid-19 yang sedang berlangsung. Artinya ada kemungkinan Arab meminta pemotongan produksi lagi.

Di sisi lain, pemimpin non-OPEC Rusia, justru mengindikasikan keinginannya untuk terus maju dengan meningkatkan pasokan minyaknya.

Analis pun mengharapkan OPEC + bisa menaikkan produksi atau output dari level saat ini, tetapi pertanyaan tetap mengenai seberapa banyak produksi dan negara mana yang akan terpengaruh belum mendapatkan jawabannya.

Pada acara industri bulan lalu, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman dilaporkan mengatakan kepada para pihak yang mencoba meramalkan langkah aliansi energi selanjutnya. “Jangan mencoba memprediksi hal yang tidak terduga,” katanya, dikutip CNBC International.

Baca Juga  Tangkis Serangan Rival, Softbank Gelontorkan Rp 67 Triliun

Baik Saudi maupun Rusia “akan mendapatkan apa yang mereka inginkan”, kata Tamas Varga, analis di PVM Oil Associates, mengatakan kepada CNBC International melalui telepon bahwa dia yakin OPEC dan mitra non-OPEC telah melakukan “pekerjaan luar biasa” dalam menyeimbangkan kembali pasar minyak dunia.

Namun, di tengah mulai pulihnya permintaan minyak global, dia memperingatkan bahwa pemulihan pasar minyak dunia masih “sangat, sangat rapuh”.

“Yang penting di sini adalah Rusia dan Arab Saudi. Harga impas [breakeven] bagi anggaran Rusia jauh lebih rendah daripada Arab Saudi, jadi Anda akan melihat semacam celah dalam pandangan antara kedua negara ini,” kata Varga.

OPEC + awalnya setuju untuk memangkas produksi minyak dengan rekor 9,7 juta barel per hari tahun lalu, sebelum mengurangi pemotongan menjadi 7,7 juta dan akhirnya 7,2 juta dari Januari.

Negara pemimpin OPEC, Arab Saudi, juga melakukan pemotongan produksi secara sukarela sebesar 1 juta dari awal Februari hingga Maret.

Namun Alexander Novak, Wakil Perdana Menteri Rusia, tampaknya mengisyaratkan niat Moskow untuk meningkatkan pasokan pada bulan lalu. Alasannya, Rusia mengklaim bahwa pasar energi mulai seimbang.

“Rusia ingin kembali ke produksi normal secepat mungkin sementara Arab Saudi ingin menikmati harga tinggi sedikit lebih lama dan lebih memilih menjaga pasar pada sisi yang ketat daripada sisi yang longgar. Kami pikir keduanya akan mendapatkan apa yang mereka inginkan,” kata Bjarne Schieldrop, Kepala Analis Komoditas di SEB Group, dalam risetnya.

Dia menambahkan, Rusia kemungkinan akan meningkatkan produksi lebih lanjut, sementara Arab Saudi tetap melakukan pemotongan secara sepihak, “sebagian atau mungkin semua” dari 1 juta barel per hari.

Analis juga memperkirakan OPEC+ akan membahas adanya kemungkinan minyak 1,3 juta barel per hari bisa masuk lagi ke pasar, pada pertemuan Kamis mendatang.

Baca Juga  Penyanyi Indonesia, Rina Gunawan meninggal dunia akibat Covid-19

“Rusia akan membangun momentum dalam pandangan pasar mereka, tetapi kami tidak melihat peralihan sepenuhnya. Pernyataan dari Arab Saudi menunjukkan bahwa mereka berada di sisi yang berhati-hati,” kata Schieldrop.

“Alih-alih mempertahankannya [pemangkasan produksi] sedikit terlalu lama ketimbang mengalami kelebihan pasokan, sebelum vaksin Covid-19 benar-benar membuat keajaiban pada aktivitas ekonomi global dan permintaan minyak,” katanya

“Pertemuan OPEC+ mendatang dengan demikian tidak mungkin merusak ‘aliansi minyak’ sehubungan dengan pasokan pada April mendatang karena hasil total kemungkinan akan membuat pasar sedikit lebih pendek daripada surplus.”

Mengacu data CNBC, harga minyak untuk patokan internasional yakni Brent diperdagangkan pada level US$ 63,01 per barel pada Selasa pagi (2/3), hampir 1,1% lebih rendah, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS di level US$ 60,02/barel, turun lebih dari 1%.

“Harapan kami, mereka akan naik sejalan dengan kesepakatan kebijakan sebelumnya yang diumumkan pada Desember 2020. Dan itu tidak meningkatkan produksi lebih dari 500.000 barel per hari. Kami berharap kebijakan itu tetap berlaku,” Louise Dickson, analis di Rystad Energy.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)




Source link

  • Bagikan