Beribu Sayang, Andai Tak Libur IHSG Pasti Terbang Tinggi

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 1% pada perdagangan Rabu kemarin (10.3) ke 6.264,679. Dengan penguatan tersebut, IHSG sukses mengakhiri penurunan4 hari beruntun.

Selain sukses menguat, kabar bagus lainnya investor asing akhirnya melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 79 miliar, setelah melakukan aksi jual bersih (net sell) Rp 1,1 triliun dalam 2 hari perdagangan sebelumnya.

Sentimen pelaku pasar sedang bagus kemarin, tercermin dari penguatan bursa saham AS (Wall Street) di hari sebelumnya. Kiblat bursa saham dunia tersebut kembali melesat Rabu waktu setempat, indeks Dow Jones bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.


Penguatan tersebut tentunya mengirim sentimen positif ke pasar Asia pada perdagangan hari ini, Kamis (11/3/2021). Indeks Kospi Korea Selatan melesat 1,88%, kemudian Nikkei Jepang 0,6%, Hang Seng di Hong Kong juga terbang 1,65%, bahkan Shanghai Index loncat hingga 2,36%.

Namun, pasar keuangan Indonesia libur pada hari ini, sehingga IHSG tidak ikut “berpesta”. Seandainya perdagangan saham buka, tidak menutup kemungkinan IHGS bisa menghijau hari ini.

Apalagi mengingat bursa regional Eropa juga dibuka sumringah hari ini. Indeks FTSE 100 di London dibuka melesat 0,40%, Indeks DAX di Jerman lompat 0,15% sedangkan indeks CAC 40 di Perancis melesat 0,37%.

Membaiknya sentimen pelaku pasar dalam 2 hari terakhir terjadi setelahyieldobligasi (Treasury) AS. Pada perdagangan Selasa, yield Treasury tenor 10 tahun turun 5 basis poin, kemudian kemarin turun lagi 2,4 basis poin.

Sebelumnya terus menanjaknyayieldTreasury hingga ke level pra pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) membuat pelaku pasar cemas akan kemungkinan terjadinyataper tantrum. Tidak hanya pasar AS, tapi pasar global juga dibuat cemas.

KenaikanyieldTreasury terjadi akibat ekspektasi perekonomian AS akan segera pulih, dan inflasi akan meningkat. Saat inflasi meningkat, maka berinvestasi di Treasury menjadi tidak menguntungkan, sebabyield-nya lebih rendah. Alhasil pelaku pasar melepas kepemilikan Treasury, danyield-nya menjadi naik.

Kenaikan yield akibat ekspektasi pemulihan ekonomi dan kenaikan inflasi tersebut juga membuat pelaku pasar melihat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) kemungkinan mengurangi nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) atau yang dikenal dengan istilah tapering.

1
2