Harga Batu Bara Nggak Kuat ‘Nanjak’ Pekan ini, Kenapa Yah?

[ad_1]

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara sempat tembus ke atas US$ 85/ton minggu ini. Namun di dua perdagangan terakhir, harga si batu hitam ambles sehingga dalam sepekan terakhir harus mencatatkan kinerja minus 0,48%. 

Pada penutupan perdagangan Jumat (5/3/2021), harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle terkoreksi 0,42% ke US$ 82,55/ton. Sehari sebelumnya harga batu bara drop 3,1% ke US$ 82,9/ton. 

Volatilitas harga batu bara yang tinggi juga tak terlepas dari fluktuasi harga komoditas lain yang juga tajam. Bahkan di pasar keuangan gejolak yang terjadi juga memicu harga berfluktuasi tinggi.


Secara fundamental, prospek batu bara tahun ini bakal lebih baik dari tahun lalu. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global meningkat 2,6% pada tahun 2021, didorong oleh permintaan listrik dan industri yang lebih tinggi.

Penyumbang utama perbaikan permintaan batu bara adalah ekonomi China, India, dan Asia Tenggara. Meskipun begitu Amerika Serikat dan Eropa kemungkinan juga mengalami kenaikan konsumsi batu bara pertama mereka dalam hampir satu dekade terakhir.

Namun IEA mengatakan bahwa permintaan batu bara global pada tahun 2021 diramal masih akan tetap di bawah tahun 2019 dan bahkan bisa lebih rendah jika asumsi laporan untuk pemulihan ekonomi, permintaan listrik atau harga gas alam tidak terpenuhi.

Kenaikan permintaan batu bara pada tahun 2021 akan berlangsung singkat, dengan perkiraan penggunaan batu bara akan mendatar pada tahun 2025 sekitar 7,4 miliar ton. IEA menyatakan bahwa masa depan batu bara sebagian besar akan ditentukan di Asia.

Saat ini, Cina dan India menyumbang 65% dari permintaan batu bara global. Dengan memasukkan Jepang, Korea, Taiwan dan Asia Tenggara, pangsa itu meningkat menjadi 75%.

Kenaikan harga batu bara termal akan membuat para produsen mulai menggenjot produksinya. Pemerintah menargetkan produksi batu bara di Indonesia sebesar 550 juta ton atau sama dengan tahun lalu.

Harga batu bara yang lebih tinggi berpeluang memberikan katalis positif untuk kinerja keuangan para penambang. Apalagi bagi mereka yang bisa lebih efisien dalam cash cost.

Pemerintah memperkirakan ekspor batu bara Indonesia setidaknya bisa mencapai 392,4 juta ton pada 2020 atau 14% lebih rendah dari realisasi ekspor batu bara pada 2019 sebesar 454,5 juta ton.

Namun, pemerintah mengharapkan potensi ekspor batu bara yang lebih tinggi tahun ini karena permintaan yang kuat di pasar utama China dan juga di pasar baru di kawasan seperti Vietnam, Bangladesh dan Pakistan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan volume ekspor batu bara Indonesia pada kisaran 406,3 juta-427 juta ton tahun ini dengan ekspor batu bara ke pasar China diperkirakan berkisar antara 185 juta ton hingga 202,3 juta ton.

Harga batu bara acuan (HBA) tercatat mengalami penurunan menjadi US$ 84,49/ton di bulan ini atau turun US$ 3,3 dibanding Januari. Mulai berakhirnya musim dingin dan Tahun Baru Imlek di China membuat konsumsi listrik mulai melandai dan permintaan batu bara pun mengalami normalisasi.

Ketika harga batu bara mulai mengalami normalisasi dan cenderung melandai. Saham-saham emiten batu bara Tanah Air juga anjlok. Bahkan dilepas asing. Hanya dalam sepekan asing sudah melepas Rp 161 miliar saham-saham batu bara di bursa.

Saham batu bara yang paling banyak dilepas asing adalah saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan net foreign sell sebesar Rp 120,48 miliar. Namun bersama PT Bukit Asam Tbk (PTBA), saham ADRO cenderung stagnan di minggu ini. 

Saham emiten tambang batu bara yang paling anjlok adalah saham PT Harum Energi Tbk (HRUM). Hanya dalam seminggu saham ini drop 17% dan mengalami dua kali auto reject bawah (arb). 


Sebelumnya nilai kapitalisasi pasar HRUM naik sampai ratusan persen ketika perusahaan terus ekspansif dengan mengakuisisi tambang nikel untuk mendiversifikasi portofolio usahanya. 

Kenaikan harga batu bara dan nikel menjadi dua katalis positif bagi harga saham HRUM. Namun ketika harga batu bara melandai dan harga nikel anjlok, nilai kapitalisasi pasar HRUM pun ikut jeblok.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)


[ad_2]

Source link