Sayonara AS, Ekonomi China Diprediksi Nomor 1 Dunia di 2035

[ad_1]

Jakarta, CNBC Indonesia – China punya kesempatan untuk mengungguli AS. Seorang ekonom dari Bank of America memprediksi China memiliki peluang melipatgandakan ekonominya pada 2035 mendatang dan melampaui AS.

Menurut kepala ekonomi Asia, BofA Global Research, Helen Qiao, China dapat menggapai peluang itu dengan beberapa langkah reformasi. “Kami pikir China bisa mencapainya,” kata Helen dikutip CNBC Internasional, Sabtu (27/2/2021).

Walaupun dilanda pandemi Covid-19, China jadi salah satu dari sedikit negara yang secara ekonomi tumbuh pada 2020 lalu. Menurut data resmi, ekonomi negara itu tumbuh 2,3% tahun lalu dan International Monetary Fund memperkirakan pada 2021 ekonomi China dapat tumbuh 8,1%.

Sementara untuk AS, pada 2020 ekonomi negara itu berkontraksi 3,5%. Tahun ini, IMF memperkirakan ekonomi AS dapat tumbuh 5,1%.

November lalu, Presiden Xi Jinping mengatakan produk domestik bruto dan pendapatan per kapita negaranya dapat digandakan pada 2035 mendatang. Untuk mencapai hal itu China membutuhkan pertumbuhan rata-rata 4,7% dalam 15 tahun.

Capaian itu menurut sejumlah pengamat kemungkinan sulit untuk dicapai. Walaupun Helen meyakini China dapat jadi negara dengan ekonomi terbesar, dia mengatakan ada sejumlah tantangan yang menghantui proses capaian itu.

Dia menyebutkan ada tiga alasan, yakni populasi usia tua di China akan mengganggu pertumbuhan ekonomi, rasio utang atas PDB China bisa mengganggu kestabilan ekonomi, dan model pertumbuhan investasi itu tidak berkelanjutan dan tidak bisa tumbuh dalam jangka waktu panjang.

Tiga alasan itu dapat memperlambat capaian namun tidak akan menggagalkan pertumbuhan ekonomi China secara keseluruhan.

Sebab pemerintah China memiliki sejumlah peraturan yang bisa mengatasi tantangan tersebut. Langkah-langkah mencakup berfokus pada menstabilkan utang dan inisiatif untuk mendorong urbanisasi serta membuka sektor jasa.

Selain itu, jangan lupa soal ketegangan diantara pemerintah AS dan China. Helen mengatakan hubungan yang tak selalu manis itu bisa jadi ancaman bagi ekonomi negara China.

“Akankah hubungannya selalu manis dan damai? Kami tidak terlalu yakin,” kata Helen.

[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)


[ad_2]

Source link