Pangeran Arab Restui Pembunuhan Khashoggi

[ad_1]

Jakarta, CNBC Indonesia – Laporan intelijen Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) ternyata menyetujui operasi penangkapan dan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018.

Jamal Ahmad Khashoggi adalah wartawan Saudi, kolumnis Washington Post, penulis, dan mantan manajer umum dan pemimpin redaksi Al Arab News Channel yang disebutkan meninggal akibat dibunuh pada 2 Oktober 2018 di Istanbul, Turki.

Laporan Kantor Direktur Intelijen Nasional AS dirilis pada Jumat (26/2). Dalam laporan tersebut terungkap bawah Putra Mahkota memegang kendali dan pengambil keputusan di Arab Saudi.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan adanya keterlibatan penasihat utama dan anggota pelindung pangeran dalam operasi yang menewaskan Khashoggi, jurnalis yang kerap mengkritik keluarga kerajaan.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Jumat menjelaskan pihaknya telah membatasi aktivasi visa kepada 76 orang Arab Saudi yang diyakini telah mengancam para pembangangkang di luar negeri. Namun, ke-76 nama tersebut tidak dirinci lebih lanjut, karena bersifat rahasia sesuai undang-undang AS.

“Diyakini telah terlibat dalam mengancam para pembangkang di luar negeri, tidak terbatas pada pembunuhan Khashoggi,” ujarnya melansir CNBC International, Minggu (28/2/2021).

Blinken mengatakan pembatasan itu adalah bagian dari ‘Larangan Khashoggi’ yang akan melarang visa bagi orang-orang yang bertindak atas nama pemerintah asing yang diyakini telah terlibat dalam kegiatan kontra-pembangkang ekstrateritorial yang serius.

Ketika ditanya mengapa Putra Mahkota MBS tidak termasuk di antara mereka yang menghadapi hukuman, Blinken menekankan pentingnya kepentingan AS dan tidak merusak hubungan dengan Arab Saudi.

The New York Times melaporkan bahwa pemerintahan Biden tidak akan menghukum Putra Mahkota atas pembunuhan Khashoggi. Gedung Putih memutuskan tindakan seperti itu akan berdampak terlalu tinggi pada kerja sama AS-Saudi di bidang kontra terorisme dan menghadapi Iran.

“Jadi apa yang telah kami lakukan dengan tindakan yang telah kami ambil sebenarnya bukan untuk memutuskan hubungan tetapi untuk mengkalibrasi ulang agar lebih sejalan dengan kepentingan dan nilai-nilai kami,” ujar Blinken.

“Dan saya pikir kita harus memahami juga bahwa ini lebih besar daripada satu orang.” kata Blinken melanjutkan.

Departemen Keuangan pada hari Jumat memberlakukan sanksi pada detail keamanan Putra Mahkota, yang dikenal sebagai Pasukan Intervensi Cepat. Itu juga memberi sanksi kepada mantan Wakil Kepala Dinas Intelijen Kerajaan, Ahmad Hassan Mohammed al-Asiri, yang dituduh sebagai biang keladi dalam plot tersebut.

Untuk diketahui, Khashoggi merupakan warga negara AS yang kerap kali menulis kolom opini untuk Washington Post dan mengkritik kebijakan Putra Mahkota MBS, dibunuh dan dimutilasi oleh tim operasi yang terkait dengan Pangeran di Konsulat Arab Saudi di Istanbul.

NEXT: Kecaman Raja Salman kepada Biden

[ad_2]

Source link