Luasnya Rahmat Allah Melebihi Hamba yang Beribadah 500 Tahun

Luasnya Rahmat Allah

Dari Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari no. 5999 dan Muslim no. 2754)

Dalam satu hadits riwayat Imam Muslim, sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu (RA) berkata bahwa Rasulullah SAWbersabda: “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelamatkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah“.

Luasnya Rahmat Allah

Dari hadits di atas juga menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya. Berikut kami sampaikan beberapa riwayat yang berkaitan dengan luasnya rahmat Allah ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) itu seratus bagian, lalu Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan Dia menurunkan satu bagiannya ke bumi. Dari satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sampai-sampai seekor kuda mengangkat kakinya karena takut menginjak anaknya.” (HR. Bukhari no. 5541 dan Muslim no. 2752)

Baca juga: Kisah Nabi Muhammad SAW, Sirah Nabawiyah Bagian 2

Dikisahkan dari sahabat Jabir RA, Nabi Muhammadshalallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mendatangi kami kemudian Beliau bersabda: “Jibril berkata: Wahai Muhammad, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki seorang hamba telah beribadah kepada Allah selama lima ratus tahun di puncak gunung di sebuah pulau yang dikelilingi dengan lautan yang lebar dan tinggi gunung itu adalah tiga puluh dzira”.

Jarak dari setiap tepi lautan yang mengelilingi gunung itu adalah empat ribu farsakh. Di gunung itu terdapat sebuah mata air selebar beberapa jari. Dari mata air itu mengalir air segar dan berkumpul ke sebuah telaga di kaki gunung.

Di sana juga terdapat pohon-pohon delima yang selalu berbuah setiap hari sebagai bekal hamba tersebut beribadah kepada Allah setia harinya. Setiap kali menjelang sore, hamba itu turun dari gunung ke telaga untuk mengambil air wudlu, sekaligus memetik buah delima lalu memakannya, baru kemudian mengerjakan salat.

Usai salat, hamba itu selalu berdoa kepada Allah Taala, supaya kelak ketika ajalnya menjemput, dia wafat dalam keadaan bersujud kepada Allah dan dia juga berdoa supaya setelah kematiannya, jasadnya tidak dirusak oleh bumi dan oleh apapun juga sampai datangnya hari kebangkitan.

Allah Ta’ala pun mengabulkan semua doa hamba tersebut. Kemudian Allah berfirman: “Masukkan hambaKu ini ke surga dengan sebab rahmat-Ku”.

Hamba tersebut berkata: “Dengan sebab amalku Ya Rabb”.

Allah berfirman: “Masukkan hambaKu ke surga dengan sebab rahmat-Ku”.

Hamba tersebut tetap berkata: “Dengan sebab amalku Ya Rabb”.

Kemudian Allah berfirman: “Sekarang coba timbang amal hambaKu ini dengan nikmat yang telah aku berikan kepadanya”.

Ternyata setelah ditimbang, nikmat penglihatan yang telah diberikan Allah kepada hamba itu menyamai timbangan amal ibadah yang telah dilakukannya selama 500 tahun. Dan masih tersisa anggota tubuh lain yang belum ditimbang, sedangkan amal hamba tersebut ternyata sudah habis.

Baca juga: Kisah Nabi Ayub alaihissalam Dari Lahir Sampai Wafat

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Sekarang masukkan hambaKu ini ke neraka”.

Mendengar perintah Allah itu, kemudian para Malaikat menggiring hamba tersebut ke neraka. Tiba-tiba ketika akan digiring ke neraka, hamba itu berteriak sambil menangis: “Ya Rabb, masukkan aku ke surga dengan rahmat-Mu”.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada para Malaikat: :Tahan dulu wahai Malaikat, dan bawa dia ke sini”.

Hamba itu lalu dibawa oleh para Malaikat kehadapan Allah Ta’ala. Kemudian Allah berfirman: “Wahai hambaKu, siapakah yang telah menciptakanmu yang sebelumnya kamu bukan apa-apa?” Hamba itu menjawab: “Engkau Ya Rabb”.

Kemudian Allah berfirman: “Siapakah yang telah memberimu kekuatan sehingga kamu mampu beribadah kepadaKu selama 500 tahun?” Hamba tersebut menjawab: “Engkau Ya Rabb”.

Allah berfirman: “Siapakah yang telah menempatkanmu di sebuah gunung yang berada di tengah-tengah laut yang luas, mengalirkan dari gunung tersebut air yang segar sedangkan di sekelilingnya adalah air asin. Yang menumbuhkan buah delima setiap malam yang seharusnya hanya setahun sekali berbuah, serta siapa yang telah memenuhi permintaanmu, ketika engkau berdoa supaya dimatikan dengan cara bersujud?”

Hamba itu menjawab dengan wajah menunduk: “Engkau Ya Rabb”.

Allah berfirman: “Itu semua tak lain adalah atas rahmat-Ku, dan dengan rahmat-Ku juga engkau Aku masukkan surga”.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada para Malaikat: “Masukkan hambaKu ini ke surga, engkau adalah sebaik-baik hamba wahai hamba-Ku”. Dan dimasukkanlah hamba itu ke dalam surga berkat rahmat Allah Ta’ala.

Kemudian Malaikat Jibril AS berkata: “Sesungguhnya, segala sesuatu itu berkat rahmat Allah wahai Muhammad”.

Demikian kisah seorang hamba yang beribadah 500 tahun semoga bisa menjadi iktibar dan pelajaran berharga. Ahli ibadah tersebut mendapat teguran keras dari Allah hingga masuk neraka dan akhirnya dimasukkan ke surga setelah mengakui kebesaran Allah dengan segala Rahmat-Nya.

Hikmah yang bisa kita petik dari kisah ini adalah jangan pernah merasa aman dengan rahmat Allah, sehingga membuat kita enggan dan meninggalkan amal saleh. Karena Allah berfirman dala Qur’an: “Itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal saleh kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf : 72).

Tapi ingat, jangan pernah merasa ujub (berbangga diri) dengan amalan. Sebab, tidak ada keimanan dan ketaatan yang menyebabkan seorang masuk surga melainkan karena rahmat Allah Ta’ala. Allahu A’lam.

Baca juga: Contoh kalimat aktif dan pasif dalam bahasa arab

Sc: kalam.sindonews.com